Oleh: blogfirman | 10 Januari 2010

Abu Muhammad Thalhah bin Ubaidillah

Dia adalah Abu Muhammad Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Ibunya bernama Ash-Sha’bah binti Al Hadrami, saudara perempuan Al Ala’. Wanita ini telah menyatakan dirinya sebagai seorang muslimah, sedangkan Thalhah sendiri tergolong sahabat yang masuk Islam pertama kali.

Sebelum perang Badar, dia bersama Sa’id bin Zaid telah diutus Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam untuk memata-matai kafilah orang musyrik yang melintas. Mereka berdua hendak melaporkan perihal kafilah kaum musyrik kepada Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, namun Rasulullah telah berangkat ke medan perang Badar bertepatan dengan dengan kepulangan keduanya ke Madinah. Keduanya tidak tahu kalau Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam telah berangkat menuju peperangan Badar. Maka keduanya sampai di Madinah pada hari Rasulullah sedang bertemu dengan kaum musyrikin di Badar.

Setelah tahu kalau Rasulullah berperang, keduanya segera menyusul beliau dan para sahabat. Namun keduanya menjumpai Rasulullah telah usai berperang. Akhirnya, Rasulullah memberi bagian harta rampasan perang untuk keduanya. Dengan demikian, keduanya dianggap seperti para sahabat lain yang ikut terjun dalam kancah perang Badar.

Thalhah juga ikut serta dalam perang Uhud bersama-sama dengan Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam. Dia telah menjaga Rasulullah dari serangan musuh sampai kedua jari tangannya terpotong.1) Pada hari itu Thalhah terluka sebanyak 24 luka. Ada yang mengatakan, sebanyak 75 luka. Jenis lukanya ada yang berupa tusukan, pukulan,maupun terkena tombak. Pada waktu perang Uhud itulah Rasulullah menjulukinya sebagai Thalhatul Khair (Thalhah yang baik). Pada waktu perang Dzatul ‘Usyairah, Rasulullah menjulukinya sebagai Thalhah Al Fayyadh (Thalhah yang murah hati). Sedangkan pada aktu perang Hunain, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam menjulukinya sebagai Thalhah Al Jud (Thalhah yang dermawan).

Ciri-ciri Fisik Thalhah

Thalhah adalah seorang laki-laki yang berkulis sawo matang dan berambut lebat, yang tidak berjenis keriting maupun lurus. Dia adalah lelaki yang berwajah tampan, ujung hidungnya ramping, dan tidak merubah warna rambutnya. Semoga Allah meridhai beliau.

Putra-putri Thalhah

Diantara putra Thalhah adalah Muhammad yang mendapat julukan As-Sajjad (orang yang ahli bersujud). As-Sajjad ini telah mati terbunuh bersama-sama dengan Thalhah pada waktu perang Jamal. Putranya yang lain bernama Imran, yang berasal dari istrinya yang bernma Hamnah binti Jahsy; Musa dari istrinya yang bernama Khaulah binti Al Qa’qa; Ya’qub yang mati terbunuh pada waktu perang Harrah; dan putranya yang bernama Ismail. Kedua putranya terakhir ini berasal dari istrinya yang bernama Ummu Kultsum binti Abi Bakar Ash-Shiddiq.

Diantara putranya yang lain adalah Musa dan Yahya yang berasal dari istrinya yang bernama Sa’ad binti ‘Aum. Sedangkan diantara putrinya adalah Ummu Ishaq, yang telah dinikahi oleh Hasan bin Ali; Ash-sha’bah dan Maryam, yang berasal dari istrinnya yang merupakan ummu walad. Sedangkan putranya yang lain adalah Shalih, yang berasal dari istrinya yang bernama Al-Fari’ah.

Sisi Kehidupan Thalhah

Dari Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda pada waktu perang Uhud, “Thalhah berhak mendapatkan pahala dan Surga Allah ketika dia telah melakukan sesuatu terhadap Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam.” Maksudnya, ketika dia bersimpuh untuk Rasulullah sehingga beliau menaiki punggungnya. (Ketika itu Rasulullah hendak menaiki sebuah batu besar dan tidak berhasil untuk naik karena posisinya yang terlalu tinggi. Maka Thalhah sengaja bersimpuh untuk dijadikan tumpuan bagi Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam —penerj.). (HR.Imam Ahmad)

Dari Aisyah radhiyallahu’anha, dia berkata, Jika Abu Bakar radhiyallahu an’hu teringat pada waktu perang Uhud, maka dia berkata, ‘ Hari itu adalah milik Thalhah semuanya’.”

Abu Bakar radhiyallahu an’hu berkata, “Aku adalah orang yang pertama kali hadir pada waktu perang Uhud (telah usai). Lalu Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku dan juga kepada Abu Ubaidah bin Al Jarrah, ‘Hendaklah kalian berdua (mengurusnya)‘. Yang dimaksud Nabi adalah mengurus Thalhah yang telah banyak mengeluarkan darah. Maka kami mengurus luka Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam terlebih dahulu dan baru setelah itu mendatangi Thalhah. Ternyata, dia terluka sebanyak 70 luka atau lebih. Luka itu ada yang berupa tikaman, pukulan, maupun lemparan tombak. Bahkan, jarinya ada yang terputus. Maka kami pun merawatnya dengan baik.”2)

Dari Qais, dia berkata, aku telah melihat jari tangan Thalhah terpotong, karena dia melindungi Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam pada waktu perang Uhud.”(HR. Bukhari)3)

Dari Musa bin Thalhah, dari Ayahnya –Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu – dia berkata, “Ketika Rasulullah pulang dari perang Uhud, beliau naik keatas mimbar. Lalu Rasulullah mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah kemudian membaca ayat berikut ini, ‘Dintara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur‘. (QS. Al Ahzaab (33):23) Maka, ada seorang laki-laki yang berdiri sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang dimaksud dalam ayat itu?” Lalu aku beserta Ali datang sambil memberikan dua buah pakaian berwarna hijau. Maka Rasulullah bersabda, ‘Wahai sang penanya, inilah salah satu dari mereka‘.”

Dari Sa’da binti Auf, dia berkata, “Thalhah datang kepadaku dan ketika itu aku melihatnya sedang murung. Maka aku bertanya, ‘Ada apa dengan Anda?’ Thalhah menjawab, ‘Harta milikku telah banyak sehingga membuatku merasa gundah’. Aku berkata, ‘Mengapa Anda bingung? Bagikan saja harta tersebut!’ Maka, Thalhah membagikan harta tersebut sampai tidak tersisa sedirham pun.”

Thalhah bin Yahya berkata, “Aku bertanya kepada bendahara Thalhah, ‘Berapa jumlah harta milik Thalhah?’ dia menjawab, ‘400 ribu’.

Dari Al Hasan, dia berkata, “Thalhah pernah menjual sebidang tanah seharga 700.000. Uang sebanyak itu dia simpan pada malam harinya. Ternyata dia sulit untuk tidur pada malam itu disebabkan uang tersebut. Maka, pada apagi harinya dia membagikan semua uang tersebut.”(HR. imam Ahmad)4)

Dari Al Hasan bahwa Thalhah bin Ubidillah telah menjual tanahnya yang berasal dari Utsman seharga 700.000. Maka, Thalhah membawa uang penjualan tanah itu kepada Utsman sambil berkata, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang bermalam dengan membawa harta ini. Dia tidak tahu apa yang ditakdirkan Allah pada malam hari. Hal tersebut dikarenakan dia takut terpedaya dari Allah. Maka, maka malam harinya beberapa orang utusan orang itu menyebar di lorong-lorong kota Madinah, sehingga pada waktu sahur dia tidak lagi memiliki uang walau sedirham.”

Wafatnya Thalhah

Thalhah mati terbunuh pada waktu perang Jamal,5) tepatnya pada hari Kamis tanggal 10 Jumadil Akhir 36 H. Ada yang mengatakan bahwa ada sebuah anak panah dari arah barat yang bersarang dilehernya. Lalu Thalhah berkata, ”Bismillah, sesungguhnya takdir Allah adalah sesuatu yang telah ditetapkan.”

Ada juga yang menyebutkan bahwa orang yang membunuhnya adalah Marwan bin Al Hakam. Jenazahnya dimakamkan di Bashrah. Thalhah meninggal dunia pada usia 60 tahun. Namun ada juag pendapat yang mengatakan bahwa usianya ketika meninggal dunia adalah 62 atau 64 tahun. 6)

1) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3724 dan 4063).

2) Al Hafizh berkata, “Disebutkan sebuah riwayat dalam kitab Musnad Ath-Thayalisi yang berasal dari hadits Aisyah, dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, dia berkata, ‘Kemudian kami menghampiri Thalhah seusai perang Uhud. Kami menjumpainya terluka sebanyak 70 lebih. Bahkan, jarinya ada yang terpotong’.” Di dalam kitab Al Jihad karya Ibnu Al Mubarak disebutkan riwayat yang berasal dari jalur Musa bin Thalhah bahwa jari telunjuk Thalhah terpotong. Disebutkan keterangan dari Ya’qub bin Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah, dari ayahnya,dia berkata, “Jari kelingking sebelah kiri milik Thalhah terpotong mulai dari pangkal persendiannya, Ketika itu dia telah menjadi tameng bagi Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam.” Lihat kitab Al Fath (VII/102-104).

3) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3724 dan 463).

4) Al Hafizh berkata, “Al Humaidi meriwayatkan di dalam kitab Al Fawa’id dari riwayat Qais bin Abi Hatim, dia berkata, “Aku pernah menemani Thalhah bin Ubaidillah. Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih banyak mengumpulkan harta tanpa meminta-minta melebihi dia.” Al Hafizh tidak memberikan komentar terhadap riwayat ini. Menurutnya, hadits ini berkualitas hasan.

5) Al Hafizh rahimahullahu Ta’ala berkata, “Ath-Thabari telah meriwayatkan di dalam kitab Al Fawa’id dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, ‘Ibunda Abu Bakar, ibunda Utsman, ibunda Thalhah, dan ibunda Abdurrahman bin Auf telah menyatakan diri mereka muslimah’. Thalhah mati terbunuh pada waktu perang Jamal, tepatnya pada tahun 36H. Dia mati karena terkena anak panah. Telah disebutkan dari beberapa jalur riwayat bahwa Marwan bin Al Hakam adalah orang yang telah memanah Thalhah, lalu bidikannya itu mengenai lutut Thalhah. Luka karen bidikan anak panah itu terus mengalirkan darah sampai akhirnya Thalhah menghembuskan nafasnya yang terakhir.Pada hari itu, dia orang yang pertama kali terbunuh. Sedangkan usia wafatnya sendiri masih diperselisihkan para ulama…Lihat kitab Al Fath (VI/102).

Sumber: http://www.sohabat.org/doku.php?id=sohabat:tholhah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: