Oleh: blogfirman | 16 Januari 2010

ABU HANIFAH ( PRIBADI YANG SEIMBANG )

Abu Hanifah an Nu’man lahir pada tahun 80 H (660 M) dan tinggal di Kufah. Selama hidupnya beliau berhasil melaksanakan tawazzun (keseimbangan). Di samping sebagai seorang faqih dengan kemampuan intelektual yang cemerlang, beliau juga mengkhususkan waktu untuk mencari nafkah dengan berdagang, dan beliau juga ahli ibadah. Beliau dikenal amat pemurah, berbudi pekerti luhur dan suka memuliakan orang lain, tanpa pandang bulu siapa orang tersebut. Disamping itu beliau lebih suka memberi daripada menerima.

Suatu kali Khalifah Abu Ja’far al Manshur, yang terkenal jarang memberi sedekah kepada orang lain, menawarkan harta sebanyak 30.000 dirham kepada Abu Hanifah, namun beliau menolaknya sembari mengatakan, “Wahai Khalifah, aku orang asing di Baghdad, aku tak memiliki tempat yang aman untuk menyimpan harta tersebut. Simpanlah harta itu di Baitul Maal, sehingga jika kelak aku membutuhkannya aku dapat memintanya darimu.” Di Kufah, Abu Hanifah dikenal sebagai pedagang yang sangat dipercaya karena sikap amanahnya, kemurahan hati dan kejujuran yang beliau miliki.

Sikap-sikap inilah yang senantiasa menjadikan dagangan beliau laku keras. Dan lewat usahanya ini, Allah menganugerahkan rizki yang melimpah kepada Abu Hanifah. Setiap akhir tahun disisihkannya sebagian dari keuntungannya untuk dizakatkan, dan disumbangkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Abu Hanifah punya mitra dagang bernama Hafs Abdurrahman. Dia inilah yang menjalankan dagangan Abu Hanifah ke para konsumen. Suatu ketika Abu Hanifah menyiapkan dagangan untuknya dengan memberikan wanti-wanti bahwa pada barang dagangannya yang tertentu ada cacatnya. “Jika engkau ingin menjualnya, jangan lupa jelaskan pada para pembeli tentang cacat yang ada pada barang tersebut”, pesan Abu Hanifah.

Semua barang tersebut akhirnya terjual habis, namun Hafs lupa memberikan penjelasan kepada para pembeli tentang cacat yang ada pada beberapa barang seperti yang dipesankan Abu Hanifah. Setelah menyadari kesalahannya, Hafs berusaha untuk mencari para pembeli barang tersebut, tapi usahanya itu sia-sia.

Akhirnya masalah tersebut diketahui Abu Hanifah, sehingga beliau juga berusaha mencari para pembelinya. Namun usaha tersebut juga tidak membawa hasiI. Sejak saat itu Abu Hanifah selalu gelisah dan murung. Akhimya untuk menebus kesalahannya tersebut, beliau sedekahkan seluruh hasil penjualan tersebut. Dan karena kekecewaannya terhadap Hats Abdurrahman, sejak saat itu ia memutuskan untuk tidak berhubungan bisnis lagi dengan Hafs.

Demikian mulia sifat dan sikap Abu Hanifah, namun ia selalu merasa masih kurang baik. Sebab ia menganggap sebaik-baik manusia yang patut untuk dijadikan suri teladan adalah Nabi Muhammad, karena itu beliau selalu ingin menyamai dengan akhlak Rasulullah yang sangat agung itu. Dan setiap saat beliau tidak pemah lupa beristightar memohon ampun kepada Allah setiap pagi. Karena ia merasa yakin bahwa tingkah lakunya dan amal perbuatannya masih banyak yang keliru.
Sumber:
Bulletin Al-Maidah, 13 Syawal 1417


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: