Oleh: blogfirman | 20 Januari 2010

A’isyah Binti Abu Bakar Ash Shidiq

Keluarga ini hidup dengan selalu diliputi oleh rasa cinta dan damai. Anggota keluarga yang luar biasa dari keluarga ini adalah Abu Bakar bin Abu Quhafa, ayahanda A’isyah. Beliau adalah seorang saudagar yang sangat baik dan menyenangkan untuk diajak berbicara. Hubungannya dengan kawan-kawannya dan juga dengan sesama anggota suku Quraysh sangat harmonis, beliau juga paham betul dengan sejarah sukunya. Cita rasanya seninya pun hebat, bahkan beliau paham dengan syair dan karya seni lainnya. Sifat bijaksana yang dimiliki oleh Abu Bakar membuatnya dengan mudah menerima ajaran yang disampaikan oleh sahabatnya, Rasulullah Muhammad, saw. Abu Bakar tidak ragu-ragu untuk memeluk agama barunya dan melakukan hal yang terbaik untuk mendukung penyebaran agama ini bersama Rasulullah, saw.

Sebelum mendapatkan pengajaran dari Rasulullah mengenai wahyu yang turun dari Allah, Abu Bakar adalah orang yang terhormat, dan setelah ia menerima ajaran ini dan beriman dengan iman yang sebenar-benarnya, maka berlipatgandalah derajatnya yang terhormat di depan masyarakat khususnya kaum muslimin. Oleh karenanya, ia menjadi orang kedua setelah Rasulullah dan dipercaya menjadi pengganti Rasulullah menjadi seorang khalifah setelah beliau wafat.

Abu Bakar menikah dengan seorang wanita yang bernama Ummu Ruman, yang merupakan anggota dari Bani Kinanah. Ummu Ruman, sebagaimana suaminya, memiliki keimanan dan semangat juang yang tinggi. Bahkan Rasulullah saw pernah berkata, “Barangsiapa yang ingin melihat wanita penghuni syurga, maka lihatlah Ummu Ruman, ia adalah wanita penghuni syurga kelak.”

A’isyah kecil tumbuh dalam suasana keluarga seperti itu. Damai, penuh cinta, dan orang tua yang bertaqwa. A’isyah adalah anak yang sangat beruntung karena dilahirkan oleh seorang ibu yang sudah muslim dan ayah yang sudah teruji keimanannya. Di hari pertama ia membuka matanya, yang ia lihat adalah orang tua yang rajin beribadah dan orangtua yang sibuk bekerja dalam da’wah. Ketika pertama kali ia dapat mendengar, yang ia dengar adalah lantunan ayat suci Al-Qur’an yang keluar dari mulut kedua orangtuanya. Ayahnya membaca Al-Qur’an dengan sangat syahdu dan khusyu’. Hal ini mampu membuatnya serta orang lain yang mendengarnya tersentuh dan terharu sehingga menitikkan air mata. Orang Quraysh sangat takut bahwa apa yang dibaca oleh Abu Bakar bisa meluluhkan hati orang Quraysh, sehingga Abu Bakar seringkali dimohon untuk tidak membacanya dengan suara yang lantang.

Keluarga Abu Bakar adalah keluarga yang paling sering dikunjungi oleh Rasulullah, dan ini adalah sebuah kehormatan yang besar. Rasulullah mengunjungi Abu Bakar untuk mendiskusikan permaslahan Da’wah dan A’isyah seringkali melihat dan mendengar percakapan mereka berdua. Dengan melihat dan mendengar betapa orang tuanya menghormati Rasulullah dan mencintainya, timbullah pula rasa hormat yang mendalam dari hati A’isyah kepada Rasulullah saw.

Rasulullah saw juga menunjukkan rasa kagumnya pada A’isyah, karena saat ia masih kecil saja, kecerdasannya sudah mulai nampak. Beliau seringkali berpesan kepada ibunya, “Jagalah A’isyah baik-baik, Ummu Ruman.”Kata-kata bijaksananya tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah kagum dengan A’isyah.

Allah merahmati anak yang cerdas ini dengan mentakdirkannya lahir dari keluarga suku Quraysh yang terpandang dan merupakan keluarga kedua pemeluk Islam setelah keluarga Rasul. Namun kehidupan A’isyah semakin terhormat saat ia menjadi pendamping hidup Rasulullah saw. A’isyah menikah saat usianya masih muda dan rumah tangga mereka menjadi rumah tangga panutan.

Kehidupan Rasulullah tak ubahnya bagaikan sebuah buku yang besar yang terbuka sehingga tidak ada sadikit pun urusan keluarganya dan kehidupannya yang tidak diketahui orang lain. Beliau adalah panutan yang sangat ideal untuk diikuti. Bahkan kehidupan Rasul berupa jihad, ibadah yaumiah (harian), cara bersosialisasi, dan bahkan kehidupan rumah tangganya dicontoh oleh segenap kaum muslimin. Sehingga, kehidupan Rasul dengan A’isyah akan dijadikan ilmu yang selanjutnya akan diamalkan pula oleh para pengikut Rasulullah yang mulia.

Pelajaran pertama adalah tentang pernikahan. A’isyah menikah dengan Rasul, manusia yang paling utama diantara orang-orang yang utama. Mereka menikah di dalam rumah yang sangat sederhana. Rumahnya hanya terdiri dari satu kamar yang kasurnya adalah tumpukan pelepah daun kurma dan pintunya terbuat dari kulit. Kenyataannya, memang seperti itulah rumah ibunda kaum muslimin, istri Rasul yang mulia. Begitulah Allah mentakdirkan kehidupan Rasul, penuh dengan kesederhanaan.

A’isyah menerima mas kawin yang baginya sangat mulia, lima ratus dirham. Padahal ia adalah seorang wanita yang cantik, salihah, dan berakhlaq mulia. Ia pun lahir dari keluarga terpandang. Namun mas kawin tersebut hanyalah sesuatu yang sifatnya simbolis. Sesuatu yang tidak diberikan oleh laki-laki biasa untuk wanita biasa, namun dari laki-laki yang paling mulia di sisi Allah, yaitu Rasulullah untuk wanita keturunan keluarga yang kaya dan terpandang, yaitu A’isyah dari Bani Taym, suku Quraysh.

Mengapa wanita dan laki-laki zaman sekarang tidak meniru apa yang mereka lakukan? Kebanyakkan kaum wanita masa kini mengharapkan mas kawin yang besar dari calon suaminya dan hal ini membuat para lelaki menunda pernikahan hingga mereka merasa siap secara financial. Pernikahan pada saat ini tak ubahnya seperti pajak. Jika ingin memiliki wanita yang cantik, terpelajar, dan terhormat, maka bayaran mas kawinnya pun harus mahal.

Bukankah kita memiliki contoh yang sangat baik dalam diri Rasul? Mengapa kita tidak ikuti? Buah dari menjauh contoh Rasul adalah kerugian. Lantas bagaimanakah pesta pernikahan dari kedua manusia mulia ini? A’isyah menuturkannya sebagai berikut:

Tak ada seekorpun unta ataupun kambing yang disembelih untuk jamuan di pesta pernikahan kami hingga datangnya Sa’ad bin Ubadah. Sa’ad memang sangat gemar memberikan makanan untuk Rasulullah saw.

Sehingga, pernikahan Rasul dan A’isyah benar-benar sederhana. Tidak ada perayaan istimewa, jamuan yang dihidangkan adalah makanan biasa dari seorang sahabat, tak lebih dari itu. Prinsip kesederhanaan itulah yang harus kita ikuti. Pada saat ini banyak sekali pesta pernikahan yang diselenggarakan secara mewah, namun itu semua tidak menjamin bahwa kehidaupan mereka akan harmonis.

Namun, meskipun A’isyah adalah istri baginda Rasul saw dan merupakan puteri dari Abu Bakar dan Ummu Ruman yang terpandang dan dikatakan sebagai penghuni syurga, tetap saja A’isyah memiliki sikap pencemburu. A’isyah sangat mencintai suaminya, demikian pula Rasulullah. Namun, A’isayah seringkali merasa sangat cemburu saat Rasul menceritakan tentang istrinya yang lain. Bahkan sikap pencemburu A’isyah ini selalu dituturkan oleh para ahli sejarah yang menulis biografinya.

Allah memberikan pelajaran kepada segenap manusia agar bershabar dengan kekurangan yang dimiliki istri. Bahkan hal ini pun terjadi kepada rumah tangga Rasul. Begitulah A’isyah, wanita mulia dari keluarga yang juga mulia, namun ia tetap memiliki kekurangan.

Kecemburuan A’isyah yang paling dalam adalah kepada istri Rasul yang ia sendiri tidak pernah bertemu dengannya. Wanita yang dicemburuinya adalah Khadijah. Rasa cinta Rasul kepada Khadijah membuat beliau sering memujinya di depan sahabat dan sahabiah lain dan selalu berhubungan baik dengan teman-teman Khadijah. Bahkan meskipun Khadijah sudah meninggal, namanya sering terucap dari mulut Rasul.

Hal ini membuat A’isyah sangat cemburu. Bahkan, saking cemburunya, A’isyah pernah merasa sangat marah dan mengatakan,”Apa sih yang membuatmu teringat terus kepada wanita yang giginya sudah tanggal semua, hanya tinggal gusinya yang tersisa. Dan ia pun sudah meninggal sangat lama sekali. Dan kini, sudah ada wanita yang lebih baik menggantikan posisinya.” (H.R Bukhari, 1575).

Begitulah A’isyah, sangat mencintai suaminya dan kecemburuannya tidak bisa dipersalahkan, karena wajar saja, suaminya adalah seseorang yang utama dan terkemuka. Namun, kata-kata yang pernah ia lontarkan itu membuat Rasul marah, “Tidak, demi Allah, Allah tidak pernah menggantikan posisi dia dalam hatiku. Dia yakin kepadaku saat semua orang mendustakanku. Dia banyak membantuku dengan harta yang ia miliki. Dan hanya darinyalah aku mendapatkan keturunan.”

Meskipun A’isyah sangat menyesali kata-kata yang sudah ia lontarkan tentang Khadijah, namun tetap saja kata-kata Rasul membuatnya sangat cemburu. Ini dapat dijadikan pelajaran bagi para suami bahwa wanita memang tidak dapat dielakkan memiliki sifat cemburu yang besar.

Selama hidup bersama Rasul dalam satu atap, A’isyah melihatnya, memperhatikannya, mendengarkannya, dan menyertainya bahkan ke medan jihad. Segala sesuatu yang ia lihat dan dengar mampu ia pahami. Dan ini membuatnya menjadi orang yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang diin ini.

A’isyah masih hidup saat Rasul telah lama meninggal. Ia menjadi orang yang dipercaya dalam hal ilmu karena kebersamaannya yang lama dengan Rasulullah, sehingga ia menjadi rujukan bagi mereka yang mencari ilmu untuk memperdalam pemahaman.
Akhlaqnya yang didasari ilmu memberi banyak manfaat bagi kehidupan orang-orang di sekitarnya. Ia juga banyak mengeluarkan hadits shahih yang sangat banyak melebihi istri Rasul yang lainnya.

Imam Az-Zahri mengatakan bahwa, “Jika wawasan A’isyah tentang Diin dibandingkan dengan wawasan semua istri Rasul dan wawasan seluruh wanita di dunia, maka wawasan A’isyah masih lebih besar. Wawasannya bukan saja mengenai hadith, namun juga tentang syair dan ilmu kesehatan. Abu Hisyam bin ‘Urwa menceritakan dari ayahnya, “Saya tidak pernah bertemu dengan orang yang sangat ahli dalam masalah hukum, kedokteran, dan syair yang melebihi A’isyah.”

Rumahnya menjadi tempat menuntut ilmu bagi para sahabat yang kemudian membawa ajaran tersebut ke kota yang lain. Semoga Allah meridahinya dan merahmatinya karena ia telah menjaga ajaran nan mulia yang didapatnya dari Rasulullah saw. (isq/far/MD)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: